|
|||||||||||||||||
|
|||||||||||||||||
|
BIO-Ethanol sebagai campuran Bensin Premium setara dengan Pertamax |
|
||||||||||||||||
|
Aren Sulut Bisa Atasi Krisis BBM Produksi Etanol Lima Kali Lipat Konsumsi Bensin MANADO— Jika masyarakat Sulut serius memanfaatkan Cap Tikus untuk mengganti BBM, konsumsi premium (bensin) malah bisa akan digantikan bio etanol. Betapa tidak, jika dimaksimalkan potensi 2 juta pohon aren Sulut maka 876 ribu kiloliter (Kl) bio etanol bisa dihasilkan dalam setahun. Sementara konsumsi bensin untuk kendaraan di Sulut, hanya sekitar 180-an Kl dalam setahun. Artinya, produksi bio etanol hampir 5 kali lipat dibandingkan dengan konsumsi bensin. Perhitungan yang diberikan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), konsumsi bio etanol sebagai substitusi bensin pun tidak seluruhnya, tapi hanya sepersepuluh bagian. Atau 9 bagian bensin dicampur dengan bio etanol dengan kadar 99,5 persen. “Campuran ini sudah bisa menghasilkan bahan bakar sekelas Pertamax yang beroktan 92,” kata Dr Unggul Priyanto, Direktur Pengembangan Sumberdaya Energi Pusat Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Hitung-hitungan kasar juga diberikan. Jika diasumsikan konsumsi premium Sulut sekitar 200 ribu Kl, berarti hanya cukup saja 180 ribu Kl yang dipasok karena 20 ribu Kl sudah bisa digantikan dengan bio etanol dari cap tikus Sulut. “Ini artinya memaksimalkan potensi lokal. Aren sangat berpotensi asalkan masyarakat dan pemerintah punya komitmen. Toh, tidak seluruh produksi untuk substitusi BBM,” tambah Unggul. Sementara Sekretaris I Tim Nasional Pengembangan Bahan Bakar Nabati (BBN) Dr Ing Evita H Legowo menyatakan, hasil penelitian dari Tim Nasional BBN memang sudah cukup banyak, tapi tinggal menunggu respon pemerintah untuk membuat regulasinya. “Bahan bakar nabati dari bio etanol terutama aren sudah cukup lama diuji coba, kami tinggal menunggu respon dari Pertamina dan pemerintah soal tata niaganya,” kata Dr Evita. Asisten II Setprov Sulut Marieta Kuntag MBA menyambut baik terobosan ini. Katanya, Pemprov, dalam hal ini Disperindag dan Dinas Perkebunan sementara menyusun program untuk pemanfaatan aren sebagai substitusi BBM. “Kemungkinan akan diperbanyak industri pengolahan air nira menjadi etanol teknis yang fisibel untuk mencampur premium,” katanya. “Kami sudah mengusahakan perbaikan tanaman aren. Sebab, selain untuk produksi gula semut juga untuk etanol,” timpal Kadis Perkebunan Ir Rene Hosang. Baik Unggul dan Dr Evita menyarankan agar masyarakat Sulut menjaga pohon aren yang sudah ada, bahkan tambah menanam, karena potensi aren sangat besar sebagai pengganti BBM maupun konsumsi lain. “Ini potensi lokal yang harus dikembangkan. Kalau Sulut kelebihan, bisa dilempar ke daerah lain yang kekurangan etanol,” ujar mereka. Saat ini yang memproduksi alkohol dari nabati baru di Jawa dan sebagian Sumatera dari tetes tebu. (sumber: Menado Post) |
||||||||||||||||
| PT. Blue Indonesia telah berhasil membuat ethanol 99,5% dari bahan baku nira (aren) dan di Produksi di Motoling Minahasa Selatan, yang telah dikunjungi oleh Timnas BBN, BPPT dan Bio Fuel Expedition 2007. Saat ini PT. Blue telah menempatkan alat 2 Unit dengan kapasitas total 1.5 ton per hari. (Humas: PT. Blue Indonesia) |
Tandan Aren Baru Tumbuh, Minahasa Selatan |
||||||||||||||||
|
|
|||||||||||||||||
|
Proses Penyadapan yang disaksikan oleh Timnas BBN. Dr Unggul Priyanto, Direktur Pengembangan Sumberdaya Energi Pusat Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)
|
|||||||||||||||||
|
Tandan Aren Siap Sadap. (Minahasa Selatan) |
|||||||||||||||||
|
|||||||||||||||||